• MAKALAH JUAL BELI ISLAM



    JUAL BELI, UTANG-PIUTANG,
    SEWA-MENYEWA, DAN PINAM-MEMINJAM
    Makalah Kelompok
    Diajukan sebagai salah satu syarat Untuk Mengikuti Ujian Akhir Semester
    Mata Kuliah Fiqih II semester 3 (malam) Program Studi Pendidikan Agama Islam STAI-MU TANJUNG PINANG KEPULAUAN RIAU



     









    Disusun Oleh kelompok 2
    1.      ABDUL RAHMAN / NIM : 1204.15.4452
    2.      KURNIA SANDRA

    Dosen Pembimbing
    Drs.H.MUHAMMAD IDRIS.DM,MM,MSi.

    SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM
    MIFTAHUL’ULUM(STAI-MU) TANJUNGPINANG TAHUN 2016

    DAFTAR ISI

    DAFTAR ISI…………………………………………………………………...      i
    KATA PENGANTAR......................................................................................       ii
    PENDAHULUAN……………………………………………………………....    1
    BAB I……………………………………………………………………………     2
    A.    Latar Belakang………………………………………………………….       1
    B.     Pengertian Judul…………………………………………………………    
    C.     Permasalahan…………………………………………………………….     2         
    D.    Tujuan……………………………………………………………………     2
    E.      Kegunaan……………………………………………………………….      2
    F.      Metode…………………………………………………………………..      3         
    BAB II………………………………………………………………………….       4         
    A.    Jual Beli…………………………………………………………………     4
    1.      Pengertian.......................................................................................         4
    2.      Rukun Jual Beli……………………………………………………      4
    3.      Dasar Hukum Jual Beli……………………………………………      4
    4.      Syarat-syarat Jual Beli…………………………………………….      5
               
    5.      Macam-macam jual beli…………………………………………………    6
    6.      Jual Beli Terlarang Tapi Sah……………………………………...      7
    7.      Jual Beli Terlarang Tapi tidak Sah……………………………….      7
    B.     Utang-Piutang………………………………………………………….      8
    1.      Pengertian………………………………………………………….       8
    2.      Dasar Hukum Al-Qardh………………………………………….       8
    3.      Rukun dan Syarat Al-Qardh……………………………………...      9
    C.    Sewa-meyewa…………………………………………………………..      9
    1.      Pengertian Sewa-menyewa………………………………………..      9
    2.      Dasar Hukum Ijarah………………………………………………      9
    3.      Rukun  Sewa-menyewa……………………………………………      9
    4.      Syarat Sewa-menyewa…………………………………………….       10
    5.      Rukun Upah Mengupah…………………………………………..      10
    D.    Pinjam-Meminjam…………………………………………………….       10
    1.      Pengertian……………………………………………………..        10
    2.      Dasar Hukum ‘Ariyah………………………………………..        11
    3.      Rukun ‘Ariyah…………………………………………………       11
    4.      Syarat  ‘Ariyah………………………………………………..        13
    5.      Hikmah…………………………………………………………      13
                   BAB III
                                 A.    Kesimpulan…………………………………………………………..          14
                                 B.     Saran………………………………………………………………….         14
                          DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………..        15






      







     KATA PENGANTAR
    الْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِ.
    نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ أَمَّا بَعْدُ
    Puji dan syukur dengan hati yang tulus dan pikiran yang jernih kami panjatkan kehadirat Allah S.W.T. karena berkat rahmat dan hidayah-Nya, makalah ini dapat hadir dihadapan pembaca.
    Disamping itu Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad S.A.W. beserta keluarganya dan para shahabatnya yang dengan penuh kesetiaan telah mengobarkan syi’ar Islam yang manpaatnya masih terasa hingga saat ini.
    Makalah yang berada dihadapan pembaca ini membahas tentang “jual beli, utang-piutang,sewa-menyewa dan pinajm-meminjam”, Untuk memenuhi tugas dalam mata kulia “Fiqih II”. Dan kami berharap, semoga makalah ini dapat menambah wawasan bagi para pembacanya dan bernilai ibadah bagi penulisnya.
    Adalah sebagai konsekwensi logis bahwa bila nantinya disana-sini akan didapati beberapa cacat, kesalahan dan kekurangan dalam makalah ini, kami selaku penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya.
    Akhirnya, dengan segala kerendahan segala bentuk saran maupun kritik dari pihak manapun. Juga tak lupa penulis sampaikan beribu-ribu terima kasih kepada pihak-pihak yang turut membantu dalam penyelesaian makalah ini.
    Paling terakhir, hanya kepada Allah penulis panjatkan rasa syukur dan hanya kepada-Nya pula urusan penulis kembalikan.
    Semoga makalah ini dapat memenuhi keperluan pembaca dan semoga berguna sesuai tujuan untuk kepentingan Agama, Bangsa, dan Umat Islam pada umumnya. Dan sekali lagi kami berharap supaya makalah ini dapat bermanpaat bagi pembacanya dan amal ibadah bagi penulisnya.Amin.
    Tanjungpinang, 09 nov 2016
    Penyusun Kelompok 2
    (ABDUL RAHMAN)
    (KURNIA SANDRA)



    BAB I
    PENDAHULUAN
    A.    Latar Belakang
    Transaksi jual beli terkadang terjadi tanpa tefikirlah terlebih dahulu dan tanpa sadar, sehingga terjadi penyesalan baik dialami oleh sepenjual atau sipembeli.maka selama kedua orang yang bertransaksi dalam satu majlisakad, maka masing masing memilki hak untuk khiyar( memilih )antara melanjutkan transaksi atau membatalkan transaksi.
    Jika keduanya telah berpisah dengan perpisahan yang sudah dikenal dikalangan masyarakat atau telah melakukan akad jual beli bahwa tidak ada hak khiyar maka transaksi telah terjadi dengan sempurna, dan tidak diperbolehkan bagi salah satu dari keduanya untuk membatalakan transaksi tersebut kecuali dengan cara membatalkan perjanjian.
    Salah satu karakter ajaran islam yang paling istimewa adalah kesempurnaan ajaranya yang meliputi seluruh sisi kebutuhan manusia,sehingga tak ada satu celahpun dari seluruh aktifitas hidup manusia, kecuali islam telah memiliki konsep dan aturan yang baku.Dalam islam, ekonomi termasuk salah satu bagian besar yang memiliki peran penting bagi berjalanya kehidupan manusia.
    Wilayah ini memiliki titik rawan yang cukup besar jika harus diserahkan kepada akal manusiayang sangat terbatas. Titik ini juga merupakan sasaran godaan setan yang terbesar terhadap anak adam,sehingga tidak sedikit dari manusia yang gagal untuk mengabdi kepada allah disebakan masalah ini.
    Seperti Dalam QS. At – TakatsurAllah berfirman :Bermegah – megahan telah melalaikankamu.Sampai kamu masuk kedalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamuakan mengetahui ( akibat perbuatanmu itu ), dan janganlah brgitu, kelak kamu akan mengetahui. Janganlah brgitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin.( QS. At – Takatsur ( 102 ) : 1-5 )
    B.     Pengertian Judul
    1.      Pengertian jual beli (البيع) secara syara’ adalah tukar menukar harta dengan harta untuk memiliki dan memberi kepemilikan
    2.      Al-Qardh ialah menyerahkan harta (uang) sebagai bentuk kasih sayang kepada siapa saja yang akan memanfaatkannya dan dia akan mengembalikannya (pada suatu saat) sesuai dengan padanannya.
    3.      Al-Qardh ialah menyerahkan harta (uang) sebagai bentuk kasih sayang kepada siapa saja yang akan memanfaatkannya dan dia akan mengembalikannya (pada suatu saat) sesuai dengan padanannya.
    4.      ‘Ariyah adalah nama untuk barang yang dipinjam oleh umat manusia secara bergiliran antara mereka. Perkataan itu diambil dari masdar at ta’wur dengan memakai artinya perkataan at tadaawul.
    C.    Permasalahan
    1.      Apa yang diamksud pengertian jual beli dan bagaimana jual beli?
    2.      Apa yang dimaksud pengertian utang-piutang dan bagaimana utang piutang?
    3.      Apa yang dimaksud pengertian sewa-menyewa dan bagaimana sewa-menyewa itu?
    4.      Apa yang dimaksud pengertian pinjam-meminjam dan bagaimana pinjam meinjam?
    D.    Tujuan
    Mengacu dari rumusan masalah diatas, maka tujuan dari pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut:
    1.      Mengetahui atau menambah pengetahuan tentang pengertian dan bagaimana jual beli
    2.      Mengetahui atau menambah pengetahuan tentang pengertian dan bagaimana utang-piutang
    3.      Mengetahui atau menambah pengetahuan tentang pengertian dan bagaimana sewa-menyewa
    4.      Mengetahui atau menambah pengetahuan tentang pengertian dan bagaimana pinjam-meminjam
    E.     Kegunaan
    1.      Menerapkan jual beli dalam kehidupan sehari yang berlandaskan gama islam
    2.      Menerapkan utang-piutang dalam kehidupan sehari yang berlandaskan gama islam
    3.      Menerapkan sewa-menyewa dalam kehidupan sehari yang berlandaskan gama islam
    4.      Menerapkan pinjam-meminjam dalam kehidupan sehari yang berlandaskan gama islam
    F.     Metode
    Adapun metode makalah yang digunakan adalah dengan cara study pustaka, yaitu mempelajari buku-buku yang dijadikan referensi dalam pengumpulan informasi dan data yang ada kaitanya dengan masalah yang akan dibahas serta pencarian dengan jalur internet.















    BAB II
    JUAL BELI, UTANG-PIUTANG,
    SEWA-MENYEWA DAN PINAJAM-MEMINJAM
    A.    Jual Beli
    1.      Pengertian Jual Beli
    Jual beli (البيع) secara bahasa merupakan masdar dari kata بعت diucapkan يبيع-باء bermakna memiliki dan membeli. Kata aslinya keluar dari kata الباع karena masing-masing dari dua orang yang melakukan akad meneruskannya untuk mengambil dan memberikan sesuatu. Orang yang melakukan penjualan dan pembelian disebut البيعان.
    Jual beli diartikan juga “pertukaran sesuatu dengan sesuatu”. Kata lain dari al-bai’ adalah asy-syira’, al-mubadah dan at-tijarah.
    Pengertian jual beli (البيع) secara syara’ adalah tukar menukar harta dengan harta untuk memiliki dan memberi kepemilikan
    2.      Rukun Jual Beli
    a.       Akad (ijab qabul) Ialah ikatan kata antara penjual dan pembeli. Jual beli belum dikatakan sah sebelum ijab dan qabul dilakukan sebab ijab qabul menunjukkan kerelaan (keridhaan). Ijab qabul boleh dilakukan dengan lisan dan tulisan.Ijab qabul dalam bentuk perkataan dan/atau dalam bentuk perbuatan yaitu saling memberi (penyerahan barang dan penerimaan uang).
    b.      Orang-orang yang berakad (subjek) – البيعان
    c.       Ma’kud ‘alaih (objek) Ma’kud ‘alaih adalah barang-barang yang bermanfaat menurut pandangan syara’
    d.      Ada nilai tukar pengganti barang
    3.      Dasar Hukum
    Allah Swt berfirman, “Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezki hasil perniagaan) dari Tuhanmu.” (Q.S. Al-Baqarah 2 : 198)
    Allah Swt berfirman, “mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba”. (Q.S. Al-Baqarah 2 : 275) Mereka berkata, “sesungguhnya jual beli sama dengan riba”. Hal ini jelas merupakan pembangkangan terhadap hukum syara’ yakni menyamakan yang halal dan yang haram.
    4.      Syarat-Syarat Jual Beli
    Adapun syarat-syarat jual beli sesuai dengan rukun jual beli yang dikemukakan jumhur ulama diatas sebagai berikut :
    a)   Syarat-syarat orang yang berakad
    Para ulama fiqh sepakat bahwa orang yang melakukan akad jual beli itu harus memenuhi syarat, yaitu :
    ·         Berakal sehat, oleh sebab itu seorang penjual dan pembeli harus memiliki akal yang sehat agar dapat meakukan transaksi jual beli dengan keadaan sadar. Jual beli yang dilakukan anak kecil yang belum berakal dan orang gila, hukumnya tidak sah.
    ·         Atas dasar suka sama suka, yaitu kehendak sendiri dan tidak dipaksa pihak manapun.
    ·         Yang melakukan akad itu adalah orang yang berbeda, maksudnya seorang tidak dapat bertindak dalam waktu yang bersamaan sebagai penjual sekaligus sebagai pembeli.
    b)   Syarat yang terkait dalam ijab qabul
    ·         Orang yang mengucapkannya telah baligh dan berakal.
    ·         Qabul sesuai dengan ijab. Apabila antara ijab dan qabul tidak sesuai maka jual beli tidak sah.
    ·         Ijab dan qabul dilakukan dalam satu majelis. Maksudnya kedua belah pihak yang melakukan jual beli hadir dan membicarakan topic yang sama
    c)    Syarat-syarat barang yang diperjualbelikan
    Syarat-syarat yang terkait dengan barang yang diperjualbelikan sebagai berikut
    ·         Suci, dalam islam tidak sah melakukan transaksi jual beli barang najis, seperti bangkai, babi, anjing, dan sebagainya.
    ·         Barang yang diperjualbelikan merupakan milik sendiri atau diberi kuasa orang lain yang memilikinya.
    ·         Barang yang diperjualbelikan ada manfaatnya. Contoh barang yang tidak bermanfaat adalah lalat, nyamauk, dan sebagainya. Barang-barang seperti ini tidak sah diperjualbelikan. Akan tetapi, jika dikemudian hari barang ini bermanfaat akibat perkembangan tekhnologi atau yang lainnya, maka barang-barang itu sah diperjualbelikan.
    ·         Barang yang diperjualbelikan jelas dan dapat dikuasai.
    ·         Barang yang diperjualbelikan dapat diketahui kadarnya, jenisnya, sifat, dan harganya.
    ·         Boleh diserahkan saat akad berlangsung
    d)   Syarat-syarat nilai tukar (harga barang)
    Nilai tukar barang yang dijull (untuk zaman sekarang adalah uang) tukar ini para ulama fiqh membedakan al-tsaman dengan al-si’r.Menurut mereka, al-tsaman adalah harga pasar yang berlaku di tengah-tengah masyarakat secara actual, sedangkan al-si’r adalah modal barang yang seharusnya diterima para pedagang sebelum dijual ke konsumen (pemakai).Dengan demikian, harga barang itu ada dua, yaitu harga antar pedagang dan harga antar pedagang dan konsumen (harga dipasar).
    Syarat-syarat nilai tukar (harga barang) yaitu :
    ·         Harga yang disepakati kedua belah pihak harus jelas jumlahnya.
    ·         Boleh diserahkan pada waktu akad, sekalipun secara hukumseperti pembayaran dengan cek dan kartu kredit. Apabila harga barang itu dibayar kemudian (berutang) maka pembayarannya harus jelas.
    ·         Apabila jual beli itu dilakukan dengan saling mempertukarkan barang maka barang yang dijadikan nilai tukar bukan barang yang diharamkan oleh syara’, seperti babi, dan khamar, karena kedua jenis benda ini tidak bernilai menurut syara
    5.      Macam-macam jual beli
    a.       Ditinjau dari segi bendanya dapat dibedakan menjadi:
    ·         Jual beli benda yang kelihatan, yaitu jual beli yang pada waktu akad, barangnya ada di hadapan penjual dan pembeli.
    ·         Jual beli salam, atau bisa juga disebut dengan pesanan. Dalam jual beli ini harus disebutkan sifat-sifat barang dan harga harus dipegang ditempat akad berlangsung.
    ·         Jual beli benda yang tidak ada,  Jual beli seperti ini tidak diperbolehkan dalam agama Islam.
    b.      Ditinjau dari segi pelaku atau subjek jual beli:
    ·         Dengan lisan,  akad yang dilakukan dengan lisan atau perkataan. Bagi orang bisu dapat diganti dengan isyarat.
    ·         Dengan perantara, misalnya dengan tulisan atau surat menyurat. Jual beli ini dilakukan oleh penjual dan pembeli, tidak dalam satu majlis akad, dan ini dibolehkan menurut syara’.
    ·         Jual beli dengan perbuatan, yaitu mengambil dan memberikan barang tanpa ijab kabul. Misalnya seseorang mengambil mie instan yang sudah bertuliskan label harganya. Menurut sebagian ulama syafiiyah hal ini dilarang karena ijab kabul adalah rukun dan syarat jual beli, namun sebagian syafiiyah lainnya seperti Imam Nawawi membolehkannya.
    c.       Dinjau dari segi hukumnya
    ·         Jual beli dinyatakan sah atau tidak sah bergantung pada pemenuhan syarat dan rukun jual beli yang telah dijelaskan di atas. Dari sudut pandang ini, jumhur ulama membaginya menjadi dua, yaitu:
    ·         Shahih, yaitu jual beli yang memenuhi syarat dan rukunnya.
    ·         Ghairu Shahih, yaitu jual beli yang tidak memenuhi salah satu syarat dan rukunnya.
    6.      Jual Beli Terlarang Tapi Sah
    a.       Membeli barang dengan harga yang lebih mahal daripada harga pasar, sedangkan dia tidak menginginkan barang itu, tetapi semata-mata supaya orang lain tidak dapat membeli barang itu. Dalam hadits diterangkan bahwa jual beli yang demikian itu dilarang.
    b.      Membeli barang yang sudah dibeli orang lain yang masih dalam masa khiyar. Apa itu khiyar? Khiyar artinya "boleh memilih antara dua, meneruskan akad jual beli atau mengurungkan (menarik kembali, tidak jadi jual beli)". Diadakan oleh syara' agar kedua orang yang berjual beli dapat memiliki kemaslahatan masing-masing lebih jauh, supaya tidak akan terjadi penyesalan di kemudian hari lantaran merasa tertipu.
    c.       Mencegat orng-orang yang datang dari desa di luar kota, lalu membeli barangnya sebelum mereka sampai ke pasar dan sewaktu mereka belum mengetahui harga pasar.
    d.      Membeli barang untuk ditahan agar dapat dijual dengan harga yang lebih mahal, sedangkan masyarakat umum memerlukan barang itu. Hal ini dilarang karena dapat merusak ketenteraman umum.
    e.       Jual beli yang disertai tipuan. Berarti dalam urusan jual beli itu ada tipuan, baik dari pihak pembeli maupun dari penjual, pada barang dagangan ataupun ukuran dan timbangannya.
    7.      Jual Beli terlarang tapi tidak sah
    Tentunya ini sudah jelas sekali, menjual barang yang diharamkan dalam Islam. Jika Allah sudah mengharamkan sesuatu, maka Dia juga mengharamkan hasil penjualannya. Seperti menjual sesuatu yang terlarang dalam agama. Rasulullah telah melarang menjual bangkai, khamr, babi, patung dan lain sebagainya yang bertentangan dengan syariah Islam.
    a.       Barang yang tidak ia miliki.
    b.      Jual beli Hashat Yaitu termasuk jual-beli Hashat ini adalah jika seseorang membeli dengan menggunakan undian atau dengan adu ketangkasan, agar mendapatkan barang yang dibeli sesuai dengan undian yang didapat. Sebagai contoh:
    c.       Jual beli Mulamasah yaitu Mulamasah artinya adalah sentuhan. Maksudnya jika seseorang berkata: “Pakaian yang sudah kamu sentuh, berarti sudah menjadi milikmu dengan harga sekian”. Atau “Barang yang kamu buka, berarti telah menjadi milikmu dengan harga sekian”.
    d.      Jual Beli Najasy Bentuk praktek najasy adalah sebagai berikut, seseorang yang telah ditugaskan menawar barang mendatangi penjual lalu menawar barang tersebut dengan harga yang lebih tinggi dari yang biasa.
    B.     Hutang-Piutang
    1.      Pengertian
    Di dalam fiqih Islam, hutang piutang atau pinjam meminjam telah dikenal dengan istilah Al-Qardh. Makna Al-Qardh secara etimologi (bahasa) ialah Al-Qath’u yang berarti memotong. Harta yang diserahkan kepada orang yang berhutang disebut Al-Qardh, karena merupakan potongan dari harta orang yang memberikan hutang.
    Sedangkan secara terminologis (istilah syar’i), makna Al-Qardh ialah menyerahkan harta (uang) sebagai bentuk kasih sayang kepada siapa saja yang akan memanfaatkannya dan dia akan mengembalikannya (pada suatu saat) sesuai dengan padanannya.
    2.      Dasar Hukum Al-Qardh
    Menurut Sayyid Sabiq, tolong menolong (Ariyah) adalah sunnah. Sedangkan menurut Arruyani, sebagaimana dikutip Taqiy Addin bahwa Ariyah hukumnya wajib. Memberikan hutang hukumnya sunnah, bahkan bisa menjadi wajib. Misalnya, menghutangi orang yang terlantar atau yang sangat membutuhkannya. Tidak diragukan lagi bahwa hal ini adalah suatu yang amat besar faedahnya terhadap masyarakat, karena tiap-tiap orang dalam bermasyarakat biasanya memerlukan pertolongan orang lain. Adapun landasan hukumnya dari Al-Qur’an ialah;

     “ Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebaikan dan taqwa dan janganlah tolong menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.” (Al Maidah :2)
    انَّ اللهَ يَأ مُرُكُمْ اَنْ تُؤَدُّو اْلاَمَانَاتِ إلى إَهْلِهَا ( النساء:   )
    “Sesungguhnya Allah memerintahkan kamu agar menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya”. (Annisa:58)
    3.      Rukun dan Syarat Al-Qardh
    Menurut Syafi’iyah, rukun dari al-Qardh adalah sebagi berikut;
    a.       Kalimat atau Lafazh “Saya utangkan benda ini kepada kamu” dan yang menerima berkata “Saya mengaku berutang benda tersebut kepada kamu”, syarat bendanya ialah sama dengan syarat benda dalam jual-beli.
    b.      Mu’ir yaitu orang yang mengutangkan dan Musta’ir yaitu orang yang menerima utang, syarat dari Mu’ir adalah pemilik yang berhak menyerahkannya,sedangkan syarat-syarat dari Mu’ir dan Musta’ir adalah;
    c.       Baligh, maka batal Ariyah yang dilakukan anak kecil.
    d.      Berakal,maka batal Ariyah yang dilakukan oleh orang yang sedang tidur atau gila.
    e.       Orang tersebut tidak diMahjur (dibawah curatelle),maka tidak sah Ariyah yang dilakukan oleh orang yang berada dibawah perlindungan(curatelle),seperti pemboros.
    C.    Pengertian ewa-menyewa (Ijarah)
    1.      Pengertian Sewa-Menyewa (Ijarah)
    Sewa-menyewa atau jual beli manfaat. Ijarah adalah akad atas manfaat dengan imbalan berupa harta.
    2.      Dasar Hukum Ijarah  
    Artinya : Tempatkanlah mereka (para isteri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka. Dan jika mereka (isteri-isteri yang sudah ditalaq) itu sedang hamil, maka berikanlah kepada mereka nafkahnya hingga mereka bersalin, kemudian jika mereka menyusukan (anak-anak)mu untukmu maka berikanlah kepada mereka upahnya, dan musyawarahkanlah di antara kamu (segala sesuatu) dengan baik; dan jika kamu menemui kesulitan maka perempuan lain boleh menyusukan (anak itu) untuknya.
    3.     Rukun Sewa-menyewa
    1.      ‘Aqid ( orang yang akad).
    2.      Shigat akad.
    3.      Ujrah (upah)
    4.      Manfaat
    4.     Syarat Sewa-menyewa
    ·        Syarat Terjadinya Akad yaitu Syarat Al-inqad ( terjadinya akad) berkaitan dengan akid, zat akad dan tempat akad.   
    ·        Syarat Pelaksanaan ( an-nafadz)
     Agar ijarah terlaksana, brang harus dimiliki oleh ‘aqid (orang yang akad) atau ia yang memiliki kekuasaan penuh untuk akad  (ahliah). Dengan demikian, ijarah al-fudhul (ijarah yang dilakukan oleh orang yang tidak memiliki kekuasaan atau tidak diijinkan oleh pemiliknya) tidak dapat menjadkan adanya ijarah.
    ·        Ma’qud ‘Alaih bermanfaat dengan jelas adanya kejelasan pada ma’qud alaih (barang) menghilangkan pertentangan diantara ‘aqid.

    5.     Rukun Upah Mengupah
    a.      Mu’jir dan musta’jir yaitu pihak yang melakukan akad ijarah.
    b.     Shighat (akad). Syarat ijab qabul antara ajir dan musta’jir sama dengan ijab qabul yang dilakukan dalam jual beli.
    c.      Ujrah (upah) Dasar yang digunakan untuk penetapan upah adalah    besarnya manfaat yang diberikan oleh pekerja (ajiir) tersebut. Bukan didasarkan pada taraf hidup, kebutuhan fisik minimum ataupun harga barang yang dihasilkan. Upah yang diterima dari jasa yang haram, menjadi rizki yang haram.
    d.     Ma’qud alaihi (barang yang menjadi Obyek). Sesuatu yang dikerjakan dalam upah mengupah, disyaratkan pada pekerjaan yang dikerjakan dengan beberapa syarat. Adapun salah satu syarat terpenting dalam transaksi ini adalah bahwa jasa yang diberikan adalah jasa yang halal.
    D.    Pinjam Memijam
    1.      Pengertian
    Ariyyah atau ‘Ariyah diartikan dalam pengertian etimologi (lughat) dengan beberapa macam makna, yaitu:
    a)      ‘Ariyah adalah nama untuk barang yang dipinjam oleh umat manusia secara bergiliran antara mereka. Perkataan itu diambil dari masdar at ta’wur dengan memakai artinya perkataan at tadaawul.
    b)      ‘Ariyah adalah nama barang yang dituju oleh orang yang meminjam. Jadi perkataan itu diambil dari akar kata ‘arahu-ya’ruuhu-‘urwan.
    2.      Dasar Hukum ‘Ariyah
    Adapun dasar hukum diperbolehkannya bahkan disunnahkannya ‘ariyah adalah ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadis-hadis sebagai berikut:
    “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (Al-Maidah : 2
    Ditinjau dari kewenangannya, akad pinjaman meminjam (‘ariyah) pada umumnya dapat dibedakan menjadi dua macam :
    ·         ‘Ariyah muqayyadah, yaitu bentuk pinjam meminjam barang yang bersifat terikat dengan batasan tertentu. Misalnya peminjaman barang yang dibatasi pada tempat dan jangaka waktu tertentu. Dengan demikian, jika pemilik barang mensyaratkan pembatasan tersebut, berarti tidak ada pilihan lain bagi pihak peminjam kecuali mentaatinya. ‘Ariyah ini biasanya berlaku pada objek yang berharta, sehingga untuk mengadakan pinjam-meminjam memerlukan adanya syarat tertentu.
    ·         ’Ariyah mutlaqah, yaitu bentuk pinjam meminjam barang yang bersifat tidak dibatasi. Melalui akad ‘ariyah ini, peminjam diberi kebebasan untuk memanfaatkan barang pinjaman, meskipun tanpa ada pembatasan tertentu dari pemiliknya. Biasanya ketika ada pihak yang membutuhkan pinjaman, pemilik barang sama sekali tidak memberikan syarat tertentu terkait obyek yang akan dipinjamkan.
    Contohnya seorang meminjamkan kendaraan, namun dalam akad tidak disebutkan hal-hal yang berkaitan dengan penggunaan kendaraan tersebut, misalnya waktu dan tempat mengendarainya.
    3.      Rukun ‘Ariyah
    a.       Kalimat mengutangkan (lafazh), seperti seseorang berkata, “Saya utangkan benda ini kepada kamu” dan yang menerima berkata”Saya mengaku berutang benda anu kepada kamu.” Syarat bendanya adalah sama dengan syarat benda-benda dalam jual beli.
    b.      Mu’ir yaitu orang yang mengutangkan (berpiutang) dan Musta’ir yaitu orang menerima utang. Syarat bagi mu’ir adalah pemilik yang berhak menyerahkannya, sedangkan syarat-syarat bagi mu’ir dan musta’ir adalah:
    1)      Baligh,  maka batal ‘ariyah yang dilakukan anak kecil;
    2)      Berakal, maka batal ‘ariyah yang dilakukan oleh orang yang sedang tidur dan orang gila;
    3)      Orang tersebut tida dimahjur (di bawah curatelle), maka tidak sah ‘ariyah yang dilakukan oleh orang berada di bawah perlindungan (curatelle), seperti pemboros.
    4)      Benda yang dipinjamkan. Pada rukun yang ketiga ini disyaratkan dua hal, yaitu:
    5)      Materi yang dipinjamkan dapat di manfaatkan, maka tidak sah ‘ariyah yang materi nya tidak dapat digunakan, seperti meminjam karung yang sudah hancur sehingga tidak dapat digunakan untuk menyimnapn padi.
    6)      Pemanfaatan itu dibolehkan, maka batal ‘ariyah yang pengambilan manfaat materinya dibatalkan oleh Syara’, seperti meminjam benda-benda najis.
    4.      Syarat  ‘Ariyah
    Syarat-syarat ‘ariyah berkaitan dengan rukun yang telah dikemukakan diatas, yaitu orang yang meminjamkan, orang yang meminjam, barang/benda yang dipinjamkan.
    Adapun syarat-syart al-‘ariyah itu diperinci oleh para ulama fiqh sebagai berikut :
    1.      Mu’ir (orang yang meminjamkan).
    2.      Mus’tair (orang yang menerima pinjaman) Baligh, Berakal dan Orang tersebut tidak dimahjur (dibawah curatelle) atau orang yang berada dibawah perlindungan, seperti pemboros. Hendaklah seorang yang ahli (berhak) menerima kebaikan. Anak kecil dan orang gila tidak sah meminjam sesuatu karena ia tidak ahli (tidak berhak) menerima kebaikan
    3.      Mu’ar (benda yang dipinjamkan) yaitu Materi yang dipinjamkan dapat dimanfaatkan, Pemanfaatan itu dibolehkan oleh syara’, Jenis barang yang apabila diambil manfaatnya bukan yang akan habis, Sewaktu diambil manfaatnya, zatnya tetap (tidak rusak).
    5.      Hikmah  ‘Ariyah
    Adapun hikmah dari ‘Ariyah yaitu :
    1.      Bagi peminjam
    a)      Dapat memenuhi kebutuhan seseorang terhadap manfaatsesuatu yang belum dimiliki.
    b)      Adanya kepercayaan terhadap dirinya untuk dapat memanfaatkan sesuatu yang ia sendiri tidak memilikinya.
    2.      Bagi yang memberi pinjaman
    a)      Sebagai manifestasi rasa syukur kepada Allah atas nikmat yang telah dianugrahkan kepadanya.
    b)      Allah akan menambah nikmat kepada orang yang bersyukur.
    c)      Membantu orang yang membutuhkan.
    d)     Meringankan penderitaan orang lain.
    e)      Disenangi sesama serta di akherat terhindar dari ancaman Allah














    BAB III
    PENUTUP
    A.          Kesimpulan
    1.      Pengertian jual beli (البيع) secara syara’ adalah tukar menukar harta dengan harta untuk memiliki dan memberi kepemilikan
    2.      Al-Qardh ialah menyerahkan harta (uang) sebagai bentuk kasih sayang kepada siapa saja yang akan memanfaatkannya dan dia akan mengembalikannya (pada suatu saat) sesuai dengan padanannya.
    3.      Al-Qardh ialah menyerahkan harta (uang) sebagai bentuk kasih sayang kepada siapa saja yang akan memanfaatkannya dan dia akan mengembalikannya (pada suatu saat) sesuai dengan padanannya.
    4.      ‘Ariyah adalah nama untuk barang yang dipinjam oleh umat manusia secara bergiliran antara mereka. Perkataan itu diambil dari masdar at ta’wur dengan memakai artinya perkataan at tadaawul.
    B.     Saran
    Muamalah adalah membahasan tentang kejadian dalam kehidupan sehari-hari pada setiap manusia karena muamalah sangat penting untuk kehidupan karena sebaagai acuan dalam berbicara dan berbuat dalam kehidupan.
    Kritik dan saran dalam kekurangan makalah ini kami minta kepada pembaca sebagai perbaikan dan menambah kualitas makalah.
















    DAFTAR PUSTAKA

    Dr. Mohammad, Taufik Hulaimi, M.A., M.Ed. 2011. FiqihSunnah.Mesir: Darul Fath Lil I’lam Al-Arobi
    A.Mas’adi, Gufron. 2002. FIQH MUAMALAH KONTEKSTUAL. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
    Prof. DR. Shalih Bin Ghanim As-Sadlan dan Syaikh Muhammad Shalih AL-Munajjid. 2007. INTISARI FIQH ISLAM. Surabaya: CV Fitrah Mandiri Sejahtera.
    Suhendi, Hendi. 2002. FIQH MUAMALAH. Jakarta: Raja Grafindo Persad

     

     
  • You might also like

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

Pidato Bahasa Indonesia

Pidato Bahasa Indonesia Dari STAI MU Tanjungpinang Tema Pidato mempertegas islam yang ramah Mohon doanya Semoga temankan kita Rudi I...

Cari Blog Ini

MENU

Download (2)